Takdir secara bahasa (etomologi) dapat diartikan ukuran, takaran. Seseorang dapat mengetahui takaran atau ukuran, setelah diukur atau ditakar. Dengan demikian ukuran atau takaran berada setelah perbuatan. Takdir juga demikian, berada setelah perbuatan. Takdir seseorang berada setelah orang itu berbuat. Secara sederhana takdir difahami akibat dari sebuah sistem. Merubah takdir, harus dirubah sistemnya. Sistem, adalah hukum alam (sunatullah) yang telah Allah ciptakan secara sempurna.
Analogi
Seseorang mau ngopi dan dari ngopi itu diharapkan rasa manisnya mendominasi. Maka ketika mengaduk kopi dan gula harus banyak gulanya, sehingga takdir ngopinya manis. Sebaliknya jika seseorang mau ngopi dengan rasa manis, tetapi kopin yang diperbanyak, maka takdirnya ngopinya pahit. Itulah sisten yang telah Allah buat secara sempurna. Jika kopi banyak dibandingkan gula, yang terjadi pahit. Jika sebaliknya gula banyak kopi sedikit yang terjadi manis. Manis dan pahit itu takdir dari adukan kopi dan gula.
Merubah takdir
Merubah takdir, merubah sistemnya, karena takdir akibat dari sistem. Di sinilah peranan ilmu, dengan ilmu manusia bisa merubah takdir. bahasa sederhananya. "Apa yang kita rasakan sekarang adalah akibat dari kemaren (Takdir), dan yang akan dirasakan besok, bagaimana sekarang".
Hadis menjelaskan, "tidak ada yang dapat merubah takdir, kecuali doa". Ahmad Musthafa al-Maraghi seorang mufasir Kontenporer Timur Tengah, memahami doa terbagi ke dalam 2 bagian. Pertama dengan kata-kata. Kedua dengan tindakan.
Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri merubah apa yang ada di dalam dirinya. Di dalam diri manusia adalah pola fikir, artinya jika ingin rubah takdirnya, maka rubahlah pola fikir. Fola fikir hanya dapat dirubah dengan dengan ilmu. Ilmu melahirkan suatu pemahaman, dan pemahaman melahirkan keyakinan, kenyakinan juga melahirkan tindakan, dan tindakan melahirkan takdir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar