Minggu, 28 Oktober 2018
Minggu, 29 Juli 2018
Mengerti
Ponpes gratis, tampa biaya sepeserpun kan tetap berjalan.
Ku lihat hati-hati membeku membisu, tak pernah sadar.
yang jauh tak melihat, yang dekat tak merasa.
kenapa kau sakiti hati ini, dengan cara kau bantu orang lain. padahal dia orang lain. yang membesarkan namamu justru darah dagingmu senidir.
Itulah tanaman liar yang akan besar sendiri, tetapi dia tangguh terhadap badai dan gangguan.
kamu tidak mengerti rasa yang terpendam di dalam dada. Semuanya memilukan jika dapat kau dengar. Memang hatimu batu. Laksana batu karang di tepian pantai.
suka duka hati ini membuat bibir menjadi kelu, dan lidah menjadi kaku. Hanya duduk ditengah malam menjadi obat penentram hati.
Seni membuat pesantren
Aku berjalan sendiri dalam mendirikan Ponpes ini. Dana hasil keringat sendiri, tampa bantuan dari siapapun. Sekalipun hati ini terkadang merasa lelah, tetapi itulah seni mendirikan ponpes keringat sendiri.
Jumat, 27 Juli 2018
Berjalan
Berjalan dari kampung halaman. yakni sampaleun 2, menuju Parungpanjang. Bermodalkan doa, dan tekad yang kuat, kudirikan Pondok Pesantren Salafiah. Mendirikan Ponpes sendirian tentunya sangatlah berliku laksana ular yang sedang berjalan. Aku lagi menunggu keajaiban, Tuhan segera mengirim orang yang dapat membantu perjuanganku ini.
Sabtu, 21 Juli 2018
Biaya Pondok
Aku mendirikan Pondok Pesantren tidak mengandalkan Proposal. Namun ku sisihkan uang gaji yang ku terima. Wajar dongk jika pembangunan pondok yang aku dirikan lambat. Namun sekalipun uang sendiri saya sedikitpun tidak meminta bayaran sama santri.
Semoga Pondok Menjadi saksi bisu dihari nanti. Disaat mataku terpejam untuk selamanya meninggalkan dunia ini.
Berjalan Sendiri
Mendirikan Pondk Pesantren sendiri, sungguh sangat melelahkan, di samping ada kepuasan. Aku laksana berjalan di tengah lapang yang tidak ada serang pun memberikan arahan. Jangankan orang lain. Keluarga sendiripun seakan memandang sebelah mata. Bahkan diawal aku terjun ke masyarakat, dengan kerasnya aku dihina, dengan kata-kata yang tidak layak diucapkan di tengah keramaian.
Saat aku mau jadi imam spontan ada yang bilang dan mencegah "Kamu belum bisa shalat, siapa yang mau make di kabasiran" Aku pun terdiam hanya waktu yang bisa membuktikan.
Alhamdulillah sedikit-demi sedikit tirai mulai tersingkap. Siapa yang benar mulai nampak. Namun mereka belum sadar bahwa ada mutiara yang tersembuyi di balik itu semua.
Biarlah, laksana air mengalir. Ucapan masih terngiang dan menjadi pemicu untuk segera bangkit.
Rabu, 18 Juli 2018
PERJALANAN SAWWADAH
Berdirinya sawwadah, lahir dari usulan temen yang bernama Abdul Aziz. Seorang laki-laki berdarah serang tepatnya Pontang. Beliau memohon kepada saya untuk segera mendirikan Pondok Pesantren. Pada awalnya saya tidak begitu merespon. Hal ini, karena saya sangat menyadari bahwa ke-ilmuan saya laksana setetes air embun diwaktu pagi, yang tidak bisa menghilangkan dahaga, bagi orang yang sedang kehausan. Namun karena temanku selalu memaksa, terpaksa aku ikuti ke-inginannya.
Ku tebang sebuah pohon yang ada di samping rumahku. Bermodalkan satu pohon kayu, berdirilah sebuah penginapan santri yang sangat sederhana.
Sedikit demi sedikit, ku sisihkan sebagian gajiku untuk menambah tempat tinggal santri yang berikutnya. Alhamdulilah dari tahun-ketahun, satu demi satu berdiri kamar santri.
Tidak hanya itu, sekarang kami sedang menambah ruangan lagi.
ini sedang proses.
Sabtu, 07 Juli 2018
Langganan:
Postingan (Atom)








