Mendirikan Pondk Pesantren sendiri, sungguh sangat melelahkan, di samping ada kepuasan. Aku laksana berjalan di tengah lapang yang tidak ada serang pun memberikan arahan. Jangankan orang lain. Keluarga sendiripun seakan memandang sebelah mata. Bahkan diawal aku terjun ke masyarakat, dengan kerasnya aku dihina, dengan kata-kata yang tidak layak diucapkan di tengah keramaian.
Saat aku mau jadi imam spontan ada yang bilang dan mencegah "Kamu belum bisa shalat, siapa yang mau make di kabasiran" Aku pun terdiam hanya waktu yang bisa membuktikan.
Alhamdulillah sedikit-demi sedikit tirai mulai tersingkap. Siapa yang benar mulai nampak. Namun mereka belum sadar bahwa ada mutiara yang tersembuyi di balik itu semua.
Biarlah, laksana air mengalir. Ucapan masih terngiang dan menjadi pemicu untuk segera bangkit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar