Para ahli berbeda dalam melihat air. Ulama fiqih memandang air sebagai alat kebersihan (thaharah). Untuk menghilankan hadas besar, atau kecil, boleh juga keduanya harus dengan air. Boleh dengan tanah jika tidak diketemukan air. Sementara dokter memandang air sebagai konsumsi yang sangat dibutuhkan manusia. Manusia dapat bertahan dari rasa lapar, sementara tidak dapat bertahan lama dari rasa haus. Pengobatan dengan air dapat menyerah keseluruh tubuh yang tidak terjangkau dengan obat biasa.
Para ulama selain berkomentar seperti di atas, air juga sering dijadikan analogi dalam kehidupan. Imam Syafi'i misalnya, selain menyatakan bahwa air meruapak alat bersuci. Beliau juga menjadikan air sebagai ibrah dalam kehidupan. Salah satu komentar Imam Syafi'i yang populer adalah, laksana air mengalir. Hal ini dapat kita fahami, ketika air mengalir akan menjadi sumber kehidupan. Namun ketika air itu diam, akan menjadi sumber penyakit.
Terlepas dari komentar para ahli, yang jelas jika kita perhatikan, air itu tetap mengalir. Ketika air ditahan dia akan terdiam. Namun diamnya air bukan tidak bergerak, dia akan tetap bergerak mengumpulkan energinya agar hal-hal yang menghalangi bisa dilalului. Jika yang mengahalanginya terlalu tinggi, dia akan mencari tempat terendah.
Berbicara air, al-Qur'an juga juga ikut membicarakan air. Bahkan al-Qur'an menggambarkan sorga yang disiapkan untuk orang bertaqwa dilengkapi dengan air.
Filosuf Yunani yang lebih berbicara esensi (hakikat), ada yang menyatakan bahwa hakikat dunia ini air. Air selalu ada di mana-mana. Baik di atas, di bawah bahkan di manapun.
Renungkanlah air!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar